Beringin dan Semangka


Seorang petani merasa heran mengapa semangka yang tangkainya kecil itu mempunyai buah yang besar, sebesar kelapa, sedangkan pohon beringin yang sangat besar itu mempunyai buah yang sangat kecil, lebih kecil dari jari kelingking. 

"Kalau beringin mempunyai buah sebesar semangka tentu lebih gagah dan buah semangka yang kecil bila buahnya kecil rasanya lebih pantas. Tuhan telah membuat kekeliruan. Dia bukan pencipta yang handal", pikirnya.

Setelah sekian lama merenung akhirnya dia tertidur di bawah pohon beringin. Karena angin yang kencang maka jatuhlah buah beringin itu dan mengenai hidungnya. Seketika dia terbangun, "Untung buahnya kecil, kalau sebesar semangka bisa melayang nyawaku". 

Kemudian dia pun pulang sambil terus-menerus memuji Tuhan. "Ah, ternyata bukan Tuhan yang keliru, tetapi aku".

Kisah Ibnu Bashad dan Seekor Kucing


Seorang Sufi ternama bernama ibnu Bashad yang hidup pada abad ke sepuluh Hijriyah bercerita bahwa suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota Kairo sambil menikmati makan malam. 

Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu kembali lagi. Setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai di sebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya.

Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia akhirnya memutuskan menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.

Obrolan Iblis dan Fir'aun

Obrolan Iblis dan Fir'aun

Suatu hari Iblis menemui Fir’aun dan berkata,: "Apakah engkau mengenalku ?".

Fir’aun menjawab,: ” Ya ”.

Iblis kemudian berkata kembali,: "Engkau telah mengungguliku untuk satu perkara",

” Untuk perkara apa ?", tanya Fir’aun.

Iblis menjawab, "Kelancanganmu terhadap Allah dengan mengaku dirimu sebagai Tuhan. Aku kan lebih tua, lebih banyak ilmu dan lebih kuat darimu, namun tidak berani mengatakan hal itu".

Fir’aun berkilah, "Ya, kau memang benar, namun aku akan bertobat".

"Tenang, jangan kau lakukan itu". sergah Iblis sembari menjelaskan,:

"Penduduk Mesir telah menganggapmu sebagai Tuhan. Jika kau tarik kembali pengakuanmu itu, tentu mereka akan lari darimu dan berpihak pada musuh-musuhmu. Mereka pasti akan merampas kerajaanmu sehingga kau menjadi sangat hina".

Fir’aun berkata, "Ah ya, kau benar". Ia kemudian bertanya kepada Iblis,:

"Tetapi tahukah engkau siapa yang lebih jahat daripada kita dimuka bumi ini ?".

Iblis menjawab,: "Ya, dia adalah orang yang dimintai maaf namun tidak mau memaafkan, orang seperti inilah yang lebih jahat daripada aku & kau ” .

Abu Nashr, Ikan dan Sedekahnya

Abu Nashr, Ikan dan Sedekahnya

Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Nashr as Shayyad. Ia hidup bersama istri dan seorang putranya dalam keadaan sangat fakir. Suatu ketika ia berjalan dalam keadaan bingung, karena istri dan putranya menangis kelaparan. Di jalan ia berpapasan dengan salah seorang Syaikh kaum muslimin, Ahmad Ibn Miskin dan ia berkata kepada Syaikh tersebut: "Aku kelelahan". 

Maka berkatalah Sang Syaikh kepadanya: "Ikutlah aku ke laut". Abu Nashr pun mengikutinya.

Ketika keduanya sampai di laut, Syaikh berkata kepadanya: "Sholatlah dua raka’at!". Maka ia pun sholat. Kemudian Syaikh berkata: "Ucapkanlah Bismillah" sembari menyuruh Abu Nashr melemparkan jaringnya ke laut. Ia pun menurutinya. Ketika jaring ditarik, jaring tersebut telah berisi satu ikan yang sangat besar.

Berkatalah Sang Syaikh kepada Abu Nashr: "Juallah ikan itu, dan belilah Makanan untuk keluargamu". 

Maka ia pun Menjual ikan itu di pasar. Kemudian ia membeli dua buah Fathirah (roti isi), satunya berisikan daging dan lainnya berisikan manisan. Lalu ia memutuskan untuk pergi mendatangi Sang Syaikh dan hendak memberinya roti. Sesampainya di sana, Sang Syaikh berkata kepadanya,:

 "Seandainya kita hanya memberi makan untuk diri kita sendiri, tentu ikan itu tidak akan keluar (tertangkap)".

Maksudnya, Syaikh melakukan kebaikan untuk mendapatkan kebaikan yang lain. Ia tidak menunggu harga bayaran. Kemudian Syaikh mengembalikan roti tersebut dan berkata kepada Abu Nashr: "Ambilah (dan berikanlah) untuk diri dan keluargamu!".

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Abu Nashr berjumpa dengan seorang wanita yang sedang menangis karena kelaparan, bersama anaknya yang masih kecil. Keduanya melihat kepada dua buah roti yang ada pada tangan Abu Nashr.

Abu Nashr bertanya kepada dirinya sendiri,: "Wanita ini seperti halnya istri dan putraku yang kesakitan menahan lapar, kepada siapakah kuberikan dua buah roti ini?". 

Demi melihat kepada mata wanita tersebut, dia tidak kuasa menahan diri saat melihat air mata yang mengalir dari keduanya. Kemudian Abu Nashr berkata kepadanya: "Ambillah dua buah Roti ini!". Maka bersinarlah wajah wanita tersebut dan tersenyumlah pula putranya karena bahagia.

Kembalilah Abu Nashr dalam kebingungan, bagaimana dia akan memberi makan istri dan putranya?. Ditengah perjalanannya, dia mendengar seseorang yang menyeru: "Siapakah yang bisa menunjukkanku kepada Abu Nashr as Shayyad ?". Maka orang-orang pun menunjuk kepadanya. Orang tersebut berkata kepada Abu Nashr:

"Sesungguhnya ayahmu telah meminjamkan hartanya kepadaku, sejak dua puluh tahun yang lalu. Kemudian dia mati, sementara aku belum mencari tahunya. maka ambillah 30 ribu Dirham milik ayahmu ini Wahai anakku!". Seketika itu juga Abu Nashr pun menjadi orang kaya.

Abu Nashr as Shayyad berkata: "Aku berubah menjadi orang yang paling kaya, memiliki beberapa rumah dan perniagaan, dan aku bisa bershadaqah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Kemudian aku bangga terhadap diriku sendiri karena banyaknya shadaqah yang aku keluarkan. Maka suatu malam aku pun bermimpi dalam tidurku bahwa mizan timbangan amal telah ditegakkan.

Kemudian menyerulah seorang penyeru: "Wahai Abu Nashr as Shayyad, kemarilah timbang kebaikan dan keburukanmu. 

Aku berkata: "Maka aku letakkan kebaikan dan keburukkanku. Ternyata keburukan-keburukanku lebih berat dari kebaikanku. Maka kukatakan: "Mana harta yang dulu aku bershadaqah dengannya?". Maka, harta-harta itu  diletakkan. Ternyata pada setiap seribu dirhamnya terdapat nafsu jiwa atau kebanggaan terhadap diri sendiri. Seakan harta-harta tersebut seperti gulungan-gulungan kapas yang tidak bernilai sama sekali.

Akupun menangis dan berkata: "Dimana keselamatan?". Kemudian aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?". Maka aku mendengar seorang Malaikat berkata: "Ya, dia masih memiliki dua buah roti isi". Maka diletakkanlah dua buah roti isi tersebut di daun timbangan kebaikan, dan turunlah daun timbangan kebaikan itu hingga sejajar dengan daun timbangan keburukan. Akupun takut .

Kemudian aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?". Aku kembali mendengar seorang Malaikat berkata: "Ya, dia masih memiliki sesuatu". Akupun berkata: "Apa itu?". Maka Malaikat berkata: "Air mata wanita yang engkau beri dua buah roti isi". Maka diletakkanlah air mata tersebut, tiba-tiba air mata tersebut seperti batu hingga memberatkan daun timbangan kebaikan. Akupun bergembira.

Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?". Maka dikatakan: "Ya, senyum anak kecil saat engkau beri dua buah roti isi". Maka daun timbangan kebaikanpun semakin berat dan mengalahkan daun timbangan keburukan. Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata: "Sungguh telah selamat, sungguh telah selamat". Akupun kemudian terbangun dari tidur seraya berkata : "Seandainya kita hanya memberi makan diri kita sendiri maka ikanpun tidak akan keluar".

Imam Al-Ghazali dan Seekor Lalat

Imam Al-Ghazali dan Seekor Lalat

Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menuliskan cerita seseorang yang berjumpa dengan Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi.

"Bagaimana Allah memperlakukanmu?" tanya orang tersebut.

Imam al-Ghazali mengisahkan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menjawabnya dengan menyebut satu per-satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.

"Aku (Allah) menolak itu semua!", ternyata Allah menolak berbagai amalan Imam al-Ghazali, kecuali satu kebaikannya yaitu ketika bertemu dengan seekor lalat.

Kisahnya, suatu saat Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab hingga seekor lalat mengusiknya barang sejenak. Ternyata lalat ini kehausan, dan tinta milik Imam al-Ghazali pun menjadi sasaran minumnya. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu. Itulah amal kebaikan yang diterima Allah.

"Masuklah bersama hamba-Ku ke dalam surga," kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam kisah mimpi itu.

Cangkir yang Cantik

Cangkir yang Cantik

Alkisah sepasang kakek nenek mengunjungi sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka yang sedang berulang tahun. Saat sedang mencari-cari hadiah yang cocok, mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang terlihat cantik.

"Lihat, alangkah cantiknya cangkir ini" kata si nenek kepada suaminya.

"Kau benar, mungkin inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," balas si kakek.

Ketika mereka sedang mengamati cangkir itu, tiba-tiba cangkir itu berbicara,: "Terima kasih untuk perhatiannya, namun perlu kalian ketahui bahwa aku dulunya tidaklah cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar".

"Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "Belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

"Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

"Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku". Begitulah cerita si cangkir.

Kisah Semut dan Belalang

Semut dan belalang

Di tengah hutan, hiduplah seekor semut yang sangat rajin. Setiap hari semut kecil ini selalu bekerja mengumpulkan makanan dan menyimpannya di dalam lumbung. Teriknya matahari dan derasnya air hujan tidak menyurutkan semangat sang semut untuk mengumpulkan makanan. Dengan bersusah payah, sang semut bekerja keras untuk membawa makanan yang dikumpulkan dan disimpan di dalam lumbung rumahnya.

Pada suatu hari ketika sang semut sedang bekerja, ia bertemu dengan seekor belalang yang sedang asyik berjemur sambil bermalas-malasan.

"Hai Mut, kamu sedang apa?", tanya belalang.

"Aku sedang mengumpulkan makanan untuk persiapan musim dingin", jawab semut.

"Ah, buat apa kamu melakukannya sekarang, musim dingin masih lama, lebih baik kita bermalas-malasan dahulu", kata belalang lagi.

Sang semut tidak memperdulikan belalang itu. Di tetap saja bekerja mengumpulkan makanan yang dijumpainya. Demikianlah sepanjang hari sang semut sibuk bekerja, sementara sang belalang bermalas-malasan.

Akhirnya musim dingin pun tiba. Sang semut yang rajin itu duduk dengan nyaman di dalam rumahnya yang hangat sambil menikmati makanannya yang berlimpah. Sementara itu belalang termenung sedih di rumahnya, karena ia tidak memiliki makanan sedikit pun. Saat belalang itu hampir mati kelaparan, sang semut datang dan memberinya makanan. Sejak saat itu sang belalang akhirnya menjadi rajin bekerja mengumpulkan makanan, seperti sang semut.